Seandainya kini ateis. Maka agama ini hanya warisan ayah-ibu. Untuk apa mewarisi omong kosong berkepanjangan tentang hal-hal absen dari indera kita? Ateisme berarti mandiri dan menjadi ateis berarti percaya diri. Semua bertumpu pada kemampuan diri atau seluruh populasi manusia secara bersamaan.
Tidak mungkin! Darimana pengetahuan hadir menemui akal kita? Dulunya pengetahuan ini kosong. Seperti mesin penggiling, akal kitalah yang menerjemahkan semua rekaman inderawi. Darimana fenomena itu menemui tubuh yang sadar bisa diurai menjadi sangat panjang, kalau mau.
Kapan kita menerima dan akhirnya mengakui "aku tahu", bisa dikira-kira. Misalnya sebotol aqua yang anda lempar bisa anda ingat. Namun hendaknya jangan lupa bahwa semua itu asalnya hanya "temuan".
Coba, sekarang, dari diri kitakah temuan-temuan itu? Bohong. Itu dari luar. Dari luar mana? Menghadapi pertanyaan semacam ini kita tidak lagi merasa percaya diri. Ternyata pengetahuan ini tadinya absen, kan? Kalau mau percaya diri, lantas diri mana yang bisa dipercaya? Semua yang kita tahu datang begitu saja.
Sekarang muncul pertanyaan baru (jangan heran, pikiran memang selalu mempertanyakan). Bagaimana jika fenomena tidak diam lalu tertangkap indera, melainkan mendatangi kita dengan sengaja? Ada gerak yang memungkinkan fenomena untuk hadir di depan manusia.
Misalnya begini, tetangga anda ada yang bernama Pak Ali. Si tetangga ini sangat pelit, tak ada suguhan kalau anda hanya bertamu saja di rumahnya. Kecuali, kalau anda mengerjakan sesuatu, katakanlah mencuci mobilnya. Baru makanan akan ia hadirkan kepada anda.
Ada maksud sebelum pak Ali memberi makan siang, karena seperti dibilang di atas, beliau bukan-main top-sudah bakhil-nya. Tanpa anda merayunya dulu dengan mencuci mobil, ia tak akan mau memberi. Setelah anda berusaha, baru ada sesuatu buat anda. Sesuatu buat anda itu pun ada maksudnya—tidak dengan tiba-tiba ada untuk anda. Bukankah demikian? Sebab pengetahuan juga hampir begitu halnya.
Ilustrasi lainnya adalah tentang belajar berjalan. Kita dulu merangkak, lalu dibimbing oleh ayah atau dipandu oleh ibu. Ada maksudnya: supaya kita bisa. Gerak tangan ibu-ayah yang menuntun kita itu diatur oleh beliau sendiri. Dari tidak bergerak, kemudian gerak tersebut ditujukan kepada kita. Untuk kita.
Contoh kedua ini satu ide dengan Pak Ali, yaitu sesuatu ada dengan maksud tertentu, bukan kebetulan. Dulunya tidak ada kata kerja "jalan" karena kenyataannya kita cuma mbrangkang. Kemudian ada, dan beberapa waktu kemudian, ada hal-hal lain dari ayah-ibu.
Saya asli Surabaya menurut tempat kelahiran. Sebelum Surabaya menjadi teratur dan administratif, wilayahnya harus ada dulu. Dengan memiliki wilayah, dimungkinkan adanya aktivitas. Kita ini warga wilayah, dan kata "wilayah" tersebut bisa anda gunakan sebebas anda.
Misalnya warga dunia. Adakah wilayah dunia berasal dari warganya? Warga tidak datang dari ruang hampa lalu pindah sendiri-sendiri bukan? Wilayah didiami oleh kita, dengan mensyaratkan keteraturan. Kalau sebagai warga kita menduduki wilayah yang tidak teratur, hari ini tidak dikenali sebagai sebelas November, atau hari ini tidak ada sama sekali sebagai lanjutan tanggal Sepuluh November.
Kekacauan tidak mungkin menyebabkan peredaran hari atau malam. Adanya hari sekarang batal: sudah tidak memenuhi syarat keteraturan. Wilayah, hari-hari, merupakan temuan, bukan dari diri kita. Lalu kita menemukan itu semua sudah dalam keadaan teratur.
Menerima premis agama adalah warisan ada benarnya di satu pihak tapi tidak di pihak lain. Benar karena ia memang datang kepada diri melalui ibu-ayah tanpa kita sendiri mencangkulnya dari dalam peta dunia. Tidak karena ia tercapai dengan perasaan "menemukan"-nya dan terus-menerus bertambah nilainya. Kan beda, memperoleh warisan kulkas tanpa susah payah atau membeli kulkas itu dengan uang kerja keras. Lemari pendingin itu akan tampak seperti emas yang terus dijaga kemilaunya.
Zuchra Pipin
Surabaya, 11 November 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar