17/01/11

Arus Utama

Kami bertemu di sebuah warung kopi di pinggir jalan. Saat itu hujan deras dan kami terjebak di sana. Laki-laki itu membawa sebuah tas yang saya yakin isinya sebuah gitar akustik. Seorang musisi, pikir saya. Ia mungkin menduga hujan akan berlangsung lama, karena itu ia memesan secangkir kopi panas kedua.
Kami duduk berseberangan meja di bagian dalam warung khusus lesehan bagi pengunjung yang ingin duduk santai, sekadar bersila, atau berselonjor kaki. Gemuruh hujan membuat saya merasa nyaman. Tapi, musik yang mengalun membuat saya pusing. Kalau dari dalam, musik RnB itu terdengar lebih samar.
Tadinya, beberapa menit sebelum hujan, saya hendak meminta penjaga warung mengganti musik itu. Sayang, sepertinya saya kalah suara. Rata-rata pengunjung di sini mengangguk-angguk kecil seolah menikmati. Atau jangan-jangan mereka sama seperti saya terpaksa menikmati musik itu sebab penjaga warung berkuasa.
Namanya Trey. Seperti dugaanku, ia adalah seorang musisi. Tepatnya musisi jalanan. Saya mulai membicarakan selera penjaga warung yang payah soal musik. Mungkin sebagai pembenaran sikap, saya menanyakan apakah dia sependapat dengan saya.
Jawabannya malah membuat saya kecele. Menurutnya, musik yang juga diputar di tempat-tempat dugem dan kafe-kafe itu bukanlah musik RnB pada awal kemunculannya. Ia tidak bilang suka atau tidak suka, ia bilang bahwa ia selalu menghargai jerih payah pemusiknya meski tidak begitu menikmati musik yang dibawakannya.
Musik RnB adalah turunan musik Jazz dan Blues yang muncul kali pertama oleh musisi-musisi keturunan Afrika yang tinggal di Amerika. Musik yang saat ini diputar hanyalah pengembangan-pengembangan dari musik RnB yang asli, katanya lalu menyeruput kopi.
Tiba-tiba saja, listrik padam. Suara gemuruh hujan diwarnai sorak-sorai dan riuh-rendah pengunjung warung kopi yang mungkin kecewa, mungkin juga karena sekadar ikut-ikutan membuat gaduh. Saya berinisatif meminta lilin ke penjaga warung sebagai penerangan.
Sepintas saya melihat, Trey mengeluarkan gitar akustik miliknya. Saat saya berjalan ke arahnya sambil membawa lilin, saya mendengar ia mulai memetik senar untuk menyesuaikan nada. Lantas jarinya lincah menari di atas setiap fret dan senar gitarnya. Bas ke ritem, ritem ke bas. Tanpa ragu ia mulai bernyanyi.
Mendadak, suasana di warung kopi berubah menjadi kafe mewah yang setiap harinya menyuguhkan musik-musik akustik memikat di bawah pencahayaan yang minim. Tidak hanya saya, beberapa pengunjung yang sedang menikmati kopi juga tampak terhibur, bahkan bertepuk tangan saat Trey akhirnya mengakhiri lagu itu.
Masih memangku gitarnya, ia menyeruput kopi dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Wajar saja, tepuk tangan itu yang membuatnya sedikit sombong. Tentu pantas ia sedikit sombong, karena baru saja pertunjukan itu telah menghibur para pengunjung.
Kepanjangan RnB adalah Rhythm and Blues, katanya. Itu adalah jenis musik yang kali pertama diistilahkan oleh Jerry Wexler, seorang jurnalis dan produser musik yang tergabung dalam Atlantic Record, Amerika. Musik itu mulai dikenal publik pada awal 1947 hingga menjadi musik yang sangat laku di pasar mainstream tangga lagu Amerika.
Lagu yang saya nyanyikan barusan berjudul Is You Is or Is You Ain’t My Baby? yang dipopulerkan oleh Luis Jordan, salah satu pelopor RnB, lanjutnya. Saya menawarkan rokok pada Trey. Saya manggut-manggut ketika ia menyalakan sebatang rokok Gudang Garam yang saya tawarkan. Tak saya duga, sebagai seorang musisi jalanan, ia pun memelajari sejarah musik.
Mainstream atau arus utama memang identik dengan hal yang populer dan memiliki daya jual tinggi. Angan saya mulai berselancar pada kata mainstream mengingat kondisi kesastraan di daerah. Seberapa besar peluang arus utama itu dapat ditembus, semua kembali pada masalah suka atau tidak suka.
Salah seorang teman mengatakan bahwa seorang penulis tidak mungkin mempertahankan idealismenya mengingat arus utama dunia sastra terus berkembang dinamis. Ideal yang dimaksudkan di sini adalah yang kolot.
Aku mengerti bahwa penulis memunyai hal yang ideal, mungkin itu berkaitan dengan cerpen, novel, atau puisi. Tapi coba aku tanya, lantas bagaimana mereka bisa menafkahi keluarganya dari hasil menulis kalau tidak mengomersilkannya? Tanya temanku itu.
Kenyataannya, masih banyak komunitas-komunitas sastra di daerah yang meyakini bahwa karya-karya yang dihasilkan adalah karya yang sangat ekslusif dan tak bisa sekadar dinilai baik atau buruk. Bahkan ada yang sengaja tidak mengirimkan karya-karyanya ke media massa dengan alasan tidak ingin mengikuti yang mainstream.
Hei, coba lihat bagaimana penulis sekaliber Putu Wijaya, Afrizal Malna, atau mungkin penulis-penulis novel best seller seperti Habiburahman El Shirazy dan Andrea Hirata yang mampu memanfaatkan bidang kepenulisan menjadi ladang penghasilan. Mereka ada di jalur mainstream bung, yaitu menulis dan membiarkan karyanya memilih pembaca.
Seorang penulis pada dasarnya juga seorang pedagang. Seorang pedagang tentu ingin agar barang dagangannya laku. Karya sastra yang lahir menurut arus utama diukur berdasarkan kualitas karya itu. Untuk mengukur kualitas sebuah karya, maka karya tersebut sudah harus menemukan pembaca untuk menilai.
Ah, saya jadi ingin cepat-cepat pulang untuk segera menyelesaikan cerita pendek yang terbengkalai. Berkutat pada satu karya itu, saya akhirnya tidak menulis karya-karya lain. Saya ingin karya saya menemukan pembaca, seperti Trey yang bernyanyi dan menemukan pendengarnya, meski tidak di cafe.
Beberapa kali saya main di kafe membawakan beberapa lagu top fourty, katanya, tapi pada akhirnya saya menyadari kualitas permainan saya menjadi tidak berkembang. Saya menghentikannya dan sekarang ini saya mengamen sambil rekaman album independen bersama band saya, Trey melanjutkan seperti yang kuduga.
Beberapa komunitas sastra yang ada di daerah untuk beberapa kasus telah melakukan apa yang dilakukan oleh Trey. Menerbitkan karyanya sendiri melalui kumpulan cerita pendek maupun kumpulan puisi. Namun, lantaran masalah pendanaan, karya stensilan itu hanya beredar di wilayah yang sempit.
Lihat bagaimana perjalanan musik RnB sampai akhirnya diakui oleh dunia melalui Wexler. Sebelumnya, RnB adalah musik ras pinggiran yang belum menemukan pendengarnya hingga kini di mana-mana selalu terdengar musik berjenis RnB, baik yang lebih modern, maupun yang mempertahankan unsur keasliannya, yaitu khas dengan ritme cepat blues.
Trey kembali memetik gitarnya, kali ini ia tidak bernyanyi. Aku mendengarkan saja. Listrik menyala. Ia menghentikan petikan gitarnya. Hujan telah reda. Trey mulai mengemasi gitarnya, membungkusnya kembali dalam tas. Saya meniup lilin. Menyeruput kopi terakhir. Kami bersiap untuk pulang.
Motor sudah menyala, saya mendengar musik di warung itu diputar lagi. Tapi kali ini penjaga warung menggantinya dengan musik dangdut. Entah kenapa pengunjung bersorak-sorai, apa karena lega pada akhirnya musik RnB tidak lagi diputar. Ah, entahlah, semuanya adalah masalah suka atau tidak suka.
Tunggu dulu, mana Trey? Ah, saya lupa menanyakan nomor HP-nya. Kenapa saya selalu melupakan hal-hal penting seperti ini. Padahal, tidak seharusnya orang-orang kreatif mudah dilupakan. Seperti juga penulis-penulis yang kreatif akan selalu diingat. Ah, egoisme ini masih begitu melekat.

Denza Perdana
16 Januari 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar