“Edan! 2011 Gayus tambah edan! Sekali lagi ketahuan leha-leha di luar tahanan. Bukan di Bali, kali ini ke luar negeri. Sama istrinya, apalagi. Wah, wah... gawat nih orang: bandel seperti kecoak!” kira-kira begitu salah satu komentar seorang laki-laki setengah baya yang duduk di dekat saya usai membaca koran yang memuat berita tentang Gayus baru-baru ini di sebuah warung, semalam.
Kecoak binatang yang bandel benar. Kalau diusir malah mendekat, kalau tidak diusir, eeh... malah kebablasan masuk kutang dan celana dalam. Konon, beberapa penelitian menyebutkan kecoa merupakan satu-satunya serangga—mungkin satu-satunya binatang, yang tetap hidup setelah terjadi ledakan nuklir yang dahsyat dan memorak-porandakan sebuah wilayah. Bandel toh?
Tapi Gayus tetap manusia. Sekali ketahuan dia bungkam, bikin alasan yang lebih luas dari Alas Roban. Kali kedua ketahuan, ah, masak sampai benar-benar ber-metamorfosis jadi kecoak lengkap dengan bandelnya? ”Mbok ya-o begitu sejak awal, ngaku! Supaya wajah halaman depan koran-koran kita nanti nggak terus-terusan dihiasi sama foto-fotonya yang kurang menjual itu. Kumis lele gitu kok....”
Beda Gayus beda Leonardo Di Caprio. Leonardo yang namanya melejit saat bermain bersama Kate Winslet (salah satu aktris pujaan saya) dalam Titanic, berperan cukup memuaskan sebagai seorang arsitek tangguh tapi sedikit sinting karena kehilangan istrinya yang lantas mencuri ide pikiran seseorang melalui mimpi buatan. Ide cerita Inception, film besutan sutradara Christoper Nolan yang dirilis 2010 lalu ini bagi saya sangat unik dan segar.
Saya sudah menonton film ini dua kali dan tidak bosan. Pertama saat-saat menjelang akhir tayangnya di bioskop-bioskop di Surabaya, kali kedua saya pergi ke rental VCD lalu menontonnya di layar netbook 10 inchi dengan earphon menancap di telinga. Masih tetap dahsyat seperti kali pertama!
Adegan action dan ketegangan bertebaran di setiap scene film ini. Alurnya terjaga hingga akhir film, musik pengiringnya mendukung ketegangan, apalagi efek spesialnya yang membuat saya geleng-geleng kepala berkali-kali sambil berdecak-decik. Untung saya nggak sampai tepuk tangan keras-keras, sebab saya nonton sendirian, jam digital di netbook menunjukkan pukul dua dini hari.
Sebagai arsitek-arsitek yang handal, Cobb dan temannya Arthur (Joseph Gordon-Levitt) merancang mimpi buatan hingga dua lapis: mimpi dalam mimpi, untuk mencapai ke alam bawah sadar targetnya. Mereka sengaja membuat mimpi-mimpi itu seperti labirin rumit yang mampu memanipulasi alam bawah sadar si target sehingga ide-ide yang paling dirahasiakan dapat dicuri.
Konsep pencurian ide melalui ini memang sangat brilian. Cerita terkesan sangat fiktif, tapi cerita ini terjalin dengan begitu logis sebab di balik pencurian itu terdapat kepentingan yang berkaitan langsung dengan persaingan bisnis dunia, perusahaan-perusahaan raksasa pemegang kartu AS ekonomi dunia.
Seorang pemilik perusahaan energi dunia, Saito (Ken Watanabe), tertarik pada kepiawaian Cobb dan timnya dalam mencuri ide melalui mimpi yang disebut extraction. Sebab itu ia menantang Cobb untuk melakukan sesuatu yang hampir mustahil, inception atau penanaman ide melalui mimpi buatan dengan target pewaris perusahaan yang menjadi pesaing perusahaannya selama ini.
Saya menangkap melalui jalinan cerita fiksi yang mantap dalam film ini bahwa yang nonmaterial dapat dikombinasikan dengan yang material dengan sangat gemilang. Mimpi, yang bagi saya dunia abstrak menjadi sebuah alat untuk menyelami target – seorang manusia, untuk kemudian ditanamkan sebuah ide yang akan memengaruhi tindakannya dalam dunia material sesuai apa yang diinginkan oleh si penanam ide. Menyelami mimpi seseorang dengan sangat tendensius.
Imajinasi saya menjadi benar-benar liar! Mungkin demikian juga pada penonton-penonton yang lain, sama-sama bisa menerima imajinasi liar yang ditawarkan oleh Christoper Nolan dalam film ini dengan sangat lahap dan bergairah. Sebab, semua imajinasi dalam film ini dilengkapi dengan alasan yang sangat meyakinkan bagi akal saya, misalnya mimpi yang bertingkat tiga: mimpi dalam mimpi yang masih dalam mimpi yang sangat berisiko, diimbangi dengan risiko yang akan terjadi bila seseorang tersesat dalam jurang bawah sadar yang disebut limbo hingga menjadi gila.
Sampai-sampai saya berpikir, seandainya benar ada metode pengambilan atau penanaman ide melalui mimpi buatan seperti yang disodorkan dalam film ini, sungguh aman benar negara kita bila metode tersebut dikuasai oleh institusi seperti KPK, misalnya. Setiap kali ada seseorang atau institusi yang mencurigakan, gelagat bau korupsi, cepat tangkap, bet-bet-bet, bius, ces-ces-ces, masuki alam bawah sadar mereka melalui mimpi, kemudian temukan siapa-siap yang terkait melalui metode extraction, lantas tanamkan ide-ide positif – seperti menjadi orang yang jujur dan mau bekerja keras melalui metode inception.
Nah, pengecualian untuk Gayus. Bila KPK sudah pegang metode ini, misalnya dengan mengajak kerjasama Mr Cobb serta mendatangkannya ke Indonesia untuk melakukan misi khusus, mulailah melakukan pencurian ide yang sangat rahasia di alam bawah sadar Gayus seperti siapa saja jaringan di balik Gayus yang belum terungkap. Setelah terbongkar siapa-siapa pejabat dan perusahaan-perusahaan penyokong dana yang sok kaya dan korupsi, ”nggak perlu lagi pake inception deh. Cukup jebloskan saja ke limbo, kecoak begitu biar gila sekalian!” Potong teman saya.
9 Januari 2011,
Denza Perdana KP
Tidak ada komentar:
Posting Komentar