Sulit dipercaya. Mereka orang-orang tangguh. Semuanya pendekar hebat. Semuanya, juga, pembunuh bayaran profesional. Tapi Candaka rupanya lebih dari sekedar hebat. Ia baru saja menghabisi mereka semua dalam waktu singkat. Tidak lebih dari sepuluh detik.
Sekarang ia menatapku.
”Pergilah, Kamarastra!” ia berkata. ”Mengingat pertemanan kita, aku tak ingin membunuhmu.”
”Begitu?”
”Jangan berlagak bodoh! Kau tak pernah bisa menang dariku.”
Aku benci mengakuinya, tapi ia benar. Bahkan dulu aku tak pernah bisa mengalahkannya. Sekarang, mengimbanginya pun rasanya akan sangat sulit. Mungkin malah mustahil.
10/10/11
Selumer Keju
Aku menikahimu sebagai sanksi
atas mimpi seintim madu
cinta sekeras batu, dan
gelisah sedekat waktu
atas mimpi seintim madu
cinta sekeras batu, dan
gelisah sedekat waktu
09/10/11
Bulan Pualam
Begitu banyak orang berharap
Agar malam cepat mengilang
Ditelan bulan.
Ahh sayang,
Malam masih terlalu pualam
Sekedar untuk disulam.
Sedang hari mengharap usang
Agar tak lagi pudar, Sama seperti cadar
Menutup perawan
Agar malam cepat mengilang
Ditelan bulan.
Ahh sayang,
Malam masih terlalu pualam
Sekedar untuk disulam.
Sedang hari mengharap usang
Agar tak lagi pudar, Sama seperti cadar
Menutup perawan
06/10/11
Panggungan
Boneka itu begitu mirip denganmu
namun begitu melebihimu.
Seorang penyair dari Lebanon
menjadikannya selembut dara, selicin ular,
seanggun merak, senyalang serigala, seelok angsa,
menyandang pula gaun malam pemberian para dewa.
namun begitu melebihimu.
Seorang penyair dari Lebanon
menjadikannya selembut dara, selicin ular,
seanggun merak, senyalang serigala, seelok angsa,
menyandang pula gaun malam pemberian para dewa.
05/10/11
Anomali
:mai
Dirimu selalu hijau, sehijau kolam yang kau sematkan
padaku. Kolam yang membuatku menyimpanmu dalam
salah satu mataku.
Setiap malam aku menjengukmu di situ. Menyusun lagi
seluruh minggu yang jatuh di punggungmu: panggung-panggung
yang kerap menyandungku.
Dirimu selalu hijau, sehijau kolam yang kau sematkan
padaku. Kolam yang membuatku menyimpanmu dalam
salah satu mataku.
Setiap malam aku menjengukmu di situ. Menyusun lagi
seluruh minggu yang jatuh di punggungmu: panggung-panggung
yang kerap menyandungku.
19/02/11
Musik?
”Musik itu Jahat!”
Begitulah kata temanku dulu. Kata-kata yang kembali menggelitikku saat menonton tingkah dua mahluk berjudul Remi dan Boni.
Remi terus mengomel. Mengomeli permainan gitar Boni yang menurutnya nyleneh dan sudah melenceng jauh dari yang semestinya. Boni sendiri dengan santai membela diri, berdalih bahwa ia hanya mencoba melakukan improvisasi.
”Improvisasi itu boleh-boleh saja Bon... tapi yang kau lakukan itu sama saja dengan mengubah lagu aslinya!”
”Lho, apa salahnya? Sekarang ini, yang namanya ’mengubah’ sesuatu itu kan sudah lumrah. Lagu rock bisa berubah jadi pop. Yang pop bisa jadi dangdut. Otomatis, yang rock juga bisa dong jadi dangdut!”
”Iya... tapi—”
Lihatlah bagaimana musik menjerumuskan dua mahluk tak berdosa itu dalam sebuah perang sengit bertajuk debat yang seolah tak akan pernah berakhir.
Jahat bukan?
Begitulah kata temanku dulu. Kata-kata yang kembali menggelitikku saat menonton tingkah dua mahluk berjudul Remi dan Boni.
Remi terus mengomel. Mengomeli permainan gitar Boni yang menurutnya nyleneh dan sudah melenceng jauh dari yang semestinya. Boni sendiri dengan santai membela diri, berdalih bahwa ia hanya mencoba melakukan improvisasi.
”Improvisasi itu boleh-boleh saja Bon... tapi yang kau lakukan itu sama saja dengan mengubah lagu aslinya!”
”Lho, apa salahnya? Sekarang ini, yang namanya ’mengubah’ sesuatu itu kan sudah lumrah. Lagu rock bisa berubah jadi pop. Yang pop bisa jadi dangdut. Otomatis, yang rock juga bisa dong jadi dangdut!”
”Iya... tapi—”
Lihatlah bagaimana musik menjerumuskan dua mahluk tak berdosa itu dalam sebuah perang sengit bertajuk debat yang seolah tak akan pernah berakhir.
Jahat bukan?
20/01/11
Kenanga
Seandainya kini ateis. Maka agama ini hanya warisan ayah-ibu. Untuk apa mewarisi omong kosong berkepanjangan tentang hal-hal absen dari indera kita? Ateisme berarti mandiri dan menjadi ateis berarti percaya diri. Semua bertumpu pada kemampuan diri atau seluruh populasi manusia secara bersamaan.
Tidak mungkin! Darimana pengetahuan hadir menemui akal kita? Dulunya pengetahuan ini kosong. Seperti mesin penggiling, akal kitalah yang menerjemahkan semua rekaman inderawi. Darimana fenomena itu menemui tubuh yang sadar bisa diurai menjadi sangat panjang, kalau mau.
Tidak mungkin! Darimana pengetahuan hadir menemui akal kita? Dulunya pengetahuan ini kosong. Seperti mesin penggiling, akal kitalah yang menerjemahkan semua rekaman inderawi. Darimana fenomena itu menemui tubuh yang sadar bisa diurai menjadi sangat panjang, kalau mau.
Langganan:
Postingan (Atom)